Henny Jacobs

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Perempuan Tanpa Cermin

Perempuan Tanpa Cermin

Goncangan pesawat, memaksaku mendekap erat dadaku. Degup jantung semakin kencang, penerbangan kali ini memicu adrenalinku. Mataku tidak lepas memandang ke luar kaca. Awan tebal menyelimuti sekitar pesawat.

"Pilotnya mungkin baru belajar" ucap bu Dini yang duduk disebelahku. Saya hanya tersenyum getir sambil mengusap dadaku. "Biasanya pesawat berkelas seperti ini tidak berani menggunakan pilot amatiran," gumamku. Lagi-lagi guncangan dan hentakan kuat ketika landing, membuatku menahan rasa seperti ngilu di ulu hatiku.

"Allahu Akbar", ucapku lirih.

Syukurlah perasaan gundah tadi segera sirna, ketika membaca WA dari mba Dira temanku yang ada di Semarang. "ok. ditunggu ya bu, nanti saya jemput" jawab mba Dira di WA nya.

Saya dan Bu Dini menunggu jemputan, duduk di bandara. Terasa panas menyengat. "Semarang panas ya? ucapku pada bu Dini. Iapun langsung menjawab:" Semarang tepi laut bu, makanya panas".

Saya berdiri di tepi bandara, sambil melihat ke arah mobil yang datang. Mba Dira belum juga kelihatan. Saya kembali duduk diantara para penumpang, keringat bercucuran melawan panasnya kota Semarang.

Tanganku meraih tissue bekas sejak dari pesawat tadi, membersihkan wajah yang keringatan. Ingin rasanya memakai alas bedak untuk mengatasi pancaran sinar matahari langsung, tetapi saya teringat tidak ada cermin. Mau ke toilet tetapi malas karena ramainya penumpang lalu lalang. Niat itupun kuurungkan.

Tidak lama kemudian, mba Dira muncul. Kami lalu berpose disela hingar bingar bandara. Mba Dira mengantar kami ke Ungaran. Sebelum pulang, ia mengajak kami nongkrong di rumah makan Mang Engking. Wow malam indah menyambut kedatangan kami. Gemerlap lampu yang memantul dari kolam ikan, membuat suasana semakin memesona. Ikan-ikan koi pun berkerumun di bawah kaki kami yang terjulur di tepi kolam. Pesona Mang Engking semakin melekat di hati ketika hidangan yang disuguhkan sangat lezat.

"Pedas juga ya? Kirain di Sumatera aja yang pedas. Ternyata di sinipun pedas juga sambelnya", ucapku kepedasan.

"Iya..tapi nikmat ya. Pikirku tidak ada yang pedas kalau kita makan di sini" balas bu Dini sambil memandangku tersenyum. Senyumnya mengisyaratkanku tentang kejadian tadi, karena ia ingat ketika kami membawa cabe rawit sisa jajanan di bandara. Sengaja di bawa takut masakannya manis-manis. "He.he"...tawa kecil kami berdua di sela hening menyambut malam.

Setelah makan malam yang terkesan buru- buru karena kami harus ikut acara pembukaan, maka kamipun di antar ke tempat diklat. Selesai kegiatan malam itu kamipun tertidur pulas. Penat setelah seharian dalam perjalanan membawa mimpi kami menyusuri dinginnya Ungaran.

Esok pagi disambut dengan segarnya udara Ungaran, kami berdua menuju halaman depan. Di depan sana gunung Ungaran menyapa ramah berbalut awan tipis. Kami berdua mengabadikan momen-momen itu, dan akhirnya menyadari bahwa sejak kemarin belum berjumpa dengan cermin.

"Aduh..rapi nggak?" tanyaku pada bu Dini ketika ia hendak menjepretku.

"O.iya ya saya juga udah rapi, belum?" jawabnya sambil merapikan jilbabnya.

Kami lalu berhadapan dan saling merapikan. Gerakannya sangat lucu, seolah-olah berhadapan dengan cermin dan mengikuti petunjuk cermin.

"Lihat saya dan ikuti gerakanku, ajakku sambil memperagakan seoah-olah cermin. Begitu sebaliknya ketika saya hendak memoles lipstik. Saya mengikuti gerakan bu Dini ketika hendak merapikan olesan yang tidak rapi.

Perempuan memang tidak lepas dari cermin. Cermin...cermin akankah kamu menjadi cermin bagiku. Melihat kelebihan dan kekuranganku.

Cermin...kali ini kamu tidak ada di sini. Mungkinkah kamu sengaja tidak ada, untuk mengajari kami agar menggunakan hati, mengaca dalam hati. Melihat diri ini...bercermin dengan hati agar selalu tersenyum dan senantiasa bersyukur hingga lupa mengeluh. (Makasih sobatku untuk kata bijak selalu bersyukur dari kamar 1027, penuh kenangan).

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali